Sejarah Olahraga Indonesia

Sejarah Induk Organisasi Olahraga Indonesia

Masa pendudukan Belanda

Pada tahun 1938 lahirlah Ikatan Sport Indonesia dengan singkatan ISI yang berkedudukan di Jakarta (waktu itu bernama Batavia). Pada saat itu ISI adalah satu-satunya badan olahraga yang bersifat nasional dan berbentuk federasi. Maksud dan tujuan didirikan organisasi ini adalah untuk membimbing, menghimpun dan mengkoordinir semua organisasi cabang olahraga yang telah berdiri pada saat itu antara lain PSSI (berdiri pada tahun 1930 di Yogyakarta), Persatuan Lawn Tenis Indonesia atau PELTI (berdiri pada tahun 1935 di Semarang) dan Persatuan Bola Keranjang Seluruh Indonesia atau sekarang lebih dikenal dengan nama Perbasi (berdiri pada tahun 1940 di Jakarta).

Pada saat itu ISI sebagai koordinator cabang-cabang olahraga juga pernah mengadakan Pekan Olahraga Indonesia pada tahun 1938 yang dikenal dengan nama ISI – Sportweek atau Pekan Olahraga ISI.

Masa pendudukan Jepang

Dengan masuknya Jepang ke Indonesia pada bulan Maret 1942, ISI mengalami kesulitan dan rintangan dalam menjalankan fungsinya sehingga tidak bisa beraktifitas sebagaimana semestinya. Pada zaman pendudukan Jepang, gerakan keolahragaan di Indonesia ditangani oleh suatu badan yang bernama GELORA (Gerakan Latihan Olahraga). Tidak banyak peristiwa olahraga penting yang tercatat pada zaman pendudukan Jepang selama tahun 1942-1945, karena peperangan terus berlangsung dan kedudukan Tentara Jepang di Asia juga semakin terdesak.

Masa awal kemerdekaan

Dengan runtuhnya kekuasaan Jepang pada bulan Agustus 1945, maka diadakanlah kongres olahraga yang pertama pada masa kemerdekaan di bulan Januari 1946 yang bertempat di Habiprojo, Solo. Berhubung dengan suasana darurat pada masa itu, kongres ini hanya dapat dihadiri oleh tokoh-tokoh olahraga dari pulau Jawa.

Kongres tersebut akhirnya berhasil membentuk suatu badan olahraga yang bernama Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) dengan susunan pengurus sebagai berikut :

Pada mulanya dalam kongres ini diajukan dua nama yang akan diberikan kepada Badan Olahraga yang bakal dibentuk yaitu ISI atau GELORA. Kedua nama tersebut akhirnya tidak terpilih dan sebagai kesimpulan rapat kongres tersebut diresmikanlah berdirinya organisasi PORI dengan pengakuan pemerintah RI sebagai satu-satunya badan resmi Persatuan Olahraga yang mengurus semua kegiatan olahraga di Indonesia yang menggantikan fungsi ISI.

Sesuai dengan fungsinya, PORI juga bertindak sebagai koordinator semua cabang olahraga di Indonesia dan khusus mengurus kegiatan-kegiatan olahraga dalam negeri. Dalam hubungan tugas keluar berkaitan seperti Olimpiade dengan Internasional Olympic Commitee (IOC), Presiden Republik Indonesia telah melantik Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) yang diketuai oleh Sultan Hamengkubuwono IX dan berkedudukan di Yogyakarta.

Garis waktu

  • 1946
    • Top organisasi olahraga membentuk Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) di Solo dengan Ketua Widodo Sosrodiningrat.
  • 1947
  • 1951
    • PORI melebur ke dalam KOI.
  • 1952
  • 1959
    • Pemerintah membentuk Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) untuk mempersiapkan penyelenggaraan Asian Games IV 1962, KOI sebagai badan pembantu DAGI dalam hubungan internasional.
  • 1961
    • Pemerintah membentuk Komite Gerakan Olahraga (KOGOR) untuk mempersiapkan pembentukan tim nasional Indonesia, top organisasi olahraga sebagai pelaksana teknis cabang olahraga yang bersangkutan.
  • 1962
    • Pemerintah membentu Departemen Olahraga (Depora) dengan menteri Maladi.
  • 1964
    • Pemerintah membentuk Dewan Olahraga Republik Indonesia (DORI), semua organisasi KOGOR, KOI, top organisasi olahraga dilebur ke dalam DORI.
  • 1965
    • Sekretariat Bersama Top-top Organisasi Cabang Olahraga dibentuk pada tanggal 25 Desember, mengusulkan mengganti DORI menjadi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang mandiri dan bebas dari pengaruh politik.
  • 1966
    • Presiden Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 143 A dan 156 A Tahun 1966 tentang pembentukan KONI sebagai ganti DORI, tetapi tidak dapat berfungsi karena tidak didukung oleh induk organisasi olahraga berkenaan situasi politik saat itu.
    • Presiden Soeharto membubarkan Depora dan membentuk Direktorat Jendral Olahraga dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    • Induk organisasi olahraga membentuk KONI pada 31 Desember dengan Ketua Umum Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
    • KOI diketuai oleh Sri Paku Alam VIII.
  • 1967
    • Presiden Soeharto mengukuhkan KONI dengan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1967.
    • Sri Paku Alam VIII mengundurkan diri sebagai Ketua KOI. Jabatan Ketua KOI kemudian dirangkap oleh Ketua Umum KONI Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) KONI M.F. Siregar dan Sekretaris KOI Soeworo.
    • Soeworo meninggal, jabatan Sekretaris KOI dirangkap oleh Sekjen KONI M.F. Siregar. Sejak itu dalam AD/ART KONI yang disepakati dalam Musyawarah Olahraga Nasional (Musornas), KONI ibarat sekeping mata uang dua sisi yang ke dalam menjalankan tugasnya sebagai KONI dan ke luar berstatus sebagai KOI. IOC kemudian mengakui KONI sebagai NOC Indonesia.
  • 2005
    • Pemerintah dan DPR menerbitkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan memecah KONI menjadi KON dan KOI.
  • 2007
    • Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 16, 17, dan 18 Tahun 2007 sebagai peraturan pelaksanaan UU No. 3 Tahun 2005.
    • KONI menyelenggarakan Musornas Luar Biasa (Musornaslub) pada 30 Juli yang membentuk Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan menyerahkan fungsi sebagai NOC Indonesia dari KONI kepada KOI kembali. Nama KONI tetap dipertahankan dan tidak diubah menjadi KON.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Komite_Olahraga_Nasional_Indonesia

Iklan

Biography Mongolian Chops Squad

BECK adalah judul sebuah manga yang ditulis oleh Harold Sakuishi yang diterbitkan oleh Kodansha di Jepang. Di Indonesia, manga ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dan dimasukan dalam kategori komik remaja Shonen Magz

Manga ini diadaptasikan dalam sebuah film yang diperankan oleh aktor, dan akan dirilis di tahun 2010. Aktor Jepang Hiro Mizushima dan Takeru Satoh akan berperan sebagai tokoh Ryusuke dan Koyuki di film ini.

Manga ini bercerita tentang sekelompok remaja Jepang yang menapaki karier dibidang musik rock. Pemuda bernama Tanaka Yukio (14 tahun) atau yang lebih dikenal oleh temannya dengan sebutan Koyuki merasa bosan dengan kehidupannya yang sangat datar, sampai akhirnya kehidupannya yang membosankan hilang ketika ia menolong seekor anjing bernama Beck dari anak-anak nakal. Disaat ini lah ia bertemu Ryusuke (yang saat itu berusia 16 tahun) pemilik dari anjing yang Koyuki tolong. Ryusuke telah lama tinggal di Amerika dan sangat berbakat dalam bermusik khususnya musik rock. Ryusuke lah yang memperkenalkan Koyuki dunia musik, ia pun juga memengaruhi Koyuki untuk belajar memetik gitar hingga mahir.

Cerita berlanjut dengan perjalanan dan lika-liku band bernama BECK yang telah dibentuk oleh Ryusuke. Dalam kesehariannya mereka berlatih dan terus mencari personil untuk band mereka, sampai suatu saat Chiba dan Taira ikut bergabung sebagai Vokalis dan Bassis, dan Saku yang merupakan teman sekolah Koyuki membuat mereka terpesona oleh kemahirannya dalam menabuh Drum sehingga menjadikannya ia sebagai Drummer dalam band ini. Di dalam manga ini, juga menceritakan tentang hubungan Koyuki, khususnya hubungan dengan Ryusuke dan hubungan cintanya dengan Maho yang merupakan adik dari Ryusuke.

Yukio “Ockto” Tanaka

Yukio Tanaka adalah karakter utama dalam cerita ini, ia adalah vokalis dan gitaris kedua di BECK, pernah diajak menyanyi oleh vokalis Dying Breed, Mat Reed dan suaranya biasa dipakai untuk suara rendah (bas). Gitarnya sendiri pertama adalah Gretch yang dipinjamkan oleh Kenichi Saitou, pemilik pabrik kertas tempat Koyuki bekerja; Fender Telecaster warna kuning, SG yang ditemukannya ketika sedang bekerja pada jasa angkut pindahan; Fender Mustang yang dibelinya di London sesuai nasihat Billy Riley.

Ryusuke “Ray” Minami

Seorang pemalas, namun merupakan gitaris yang handal, dia menginspirasikan Koyuki untuk bermain kontrol , dia adalah pendiri BECK dan gitaris utama di bandnya. Ray sebagai gitaris pertama, berteman baik dengan Eddie Lee, gitaris dari band internasional Dying Breed. Sebuah cerita dan konflik mengelilinginya dan gitar Gibson Les Paul miliknya, Prudence (Versi orisinalnya adalah Lucille)

Maho Minami

Maho adalah adik dari Ryusuke, ia penyanyi yang berbakat. Koyuki bertemu dengan Maho pertama kali di dalam sebuah cafe, dimana Maho bernyanyi disana. Mereka semakin akrab ketika mereka bernyanyi Follow Me bersama di acara reuni guru renang Koyuki, Kenichi Saitou. Semakin lama hubungan mereka semakin romantis.

Ken’ichi Saitou

Saitou mengajari Koyuki renang dan bermain gitar, ia meminjamkan gitarnya kepada Koyuki untuk berlatih dirumahnya. Ia adalah fans fanatik dari band internasional Rocket Boys yang menyanyikan lagu “Follow Me”

Taira Yoshiyuki

Bassis band BECK, anggota pertama yang direkrut oleh Ryusuke, permainannya sangat funky untuk ukuran seorang pemain bass, merupakan anggota yang paling dewasa walaupun wajahnya selalu kelihatan tidak peduli. Disaat pertunjukan, ia melepaskan bajunya menunjukan ciri khasnya di BECK.

Chiba Tsunemi

Vokalis utama BECK, Chiba lebih terpengaruh dengan musik rap dan punk ketimbang Koyuki yang lebih pas menyanyikan lagu Slow di BECK, bakatnya sebagai rapper sangat tinggi dan pernah mengikuti duel rapper walaupun kalah. Chiba bertemu dengan Ryusuke disaat permainan baseball berlangsung dan membawa keyakinan dari Ryusuke bahwa Chiba adalah vokalis dengan talenta baik di panggung.

Sakurai “Saku” Yuji

Saku adalah drummer BECK, dia adalah anggota terakhir yang bergabung. Ia dan Koyuki adalah teman sekelas dan teman dekat. Dia seorang yang pendiam dan sering sekali dikasari oleh berandal kelas. Koyuki adalah orang pertama yang diajaknya berbicara.

Keamanan cerita dan kemiripan dengan manga lain

Beck boleh dilihat anak kecil dan tidak berbahaya sama sekali, sampai manga lain yang agak berbahaya, seperti Beyblade mengambil kemiripan ceritanya (Beyblade G-Revolution, sesi ke III), di antaranya karena adanya karakter bernama Ming-Ming, yang kadang-kadang bernyanyi di beberapa episode. Ada pula K-On!, yakni manga seperti Beck, hanya saja, Beck untuk anak laki-laki dan K-ON untuk anak perempuan.